Logo
Klik Lulus
Beranda Tentang Layanan Kontak Mode Gelap
Tips

Permasalahan Akademisi: Hidup di Antara Jurnal, Deadline, dan Kopi Dingin

Permasalahan Akademisi: Hidup di Antara Jurnal, Deadline, dan Kopi Dingin

Kalau orang luar melihat akademisi, bayangannya sering kali keren: kerja di kampus, ngobrol ilmiah, pakai jas saat seminar, punya gelar panjang seperti gerbong kereta, dan hidupnya seolah penuh dengan diskusi berbobot. Padahal, di balik itu semua, ada dunia lain yang cukup brutal: revisi jurnal yang tidak kelar-kelar, administrasi yang datang seperti hujan deras, mahasiswa yang menghilang saat bimbingan, dan deadline yang muncul lebih sering daripada notifikasi promo marketplace.

Permasalahan akademisi itu nyata. Bukan sekadar “ah, paling cuma ngajar doang.” Justru dunia akademik sering menjadi tempat berkumpulnya berbagai tekanan yang kelihatannya elegan dari luar, tapi cukup bikin batin salto dari dalam. Akademisi tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga meneliti, menulis, mengabdi kepada masyarakat, mengikuti rapat, mengisi laporan, mengejar akreditasi, membimbing mahasiswa, dan tetap terlihat waras di depan publik.

Mari kita bahas satu per satu, dengan bahasa yang tidak terlalu kaku. Karena kalau terlalu akademik, nanti artikelnya ikut minta direvisi reviewer dua.

1. Tekanan Publikasi: Publish or Perish, Alias Terbit atau Terjungkal

Salah satu permasalahan akademisi yang paling sering dibahas adalah tekanan publikasi. Di banyak kampus, dosen dan peneliti dituntut untuk terus menulis artikel ilmiah, menerbitkan jurnal, ikut konferensi, dan menghasilkan karya akademik yang terindeks. Istilah kerennya “publish or perish”. Bahasa warung kopinya: kalau tidak publikasi, karier bisa masuk angin.

Masalahnya, menulis artikel ilmiah bukan seperti menulis caption Instagram. Butuh data, teori, metodologi, analisis, referensi, dan tentu saja kesabaran tingkat dewa. Setelah artikel selesai, perjuangan belum selesai. Masih ada tahap submit, review, revisi, submit lagi, revisi lagi, lalu menunggu kabar yang kadang lebih lama daripada menunggu balasan chat dari orang yang sudah tidak tertarik.

Reviewer pun kadang punya komentar yang ajaib. Ada yang minta teori ditambah, ada yang minta metode diperjelas, ada yang minta data diperluas, dan ada juga yang komentarnya pendek tapi menyayat hati: “The manuscript lacks novelty.” Sakitnya tidak berdarah, tapi terasa sampai daftar pustaka.

2. Beban Administrasi: Musuh Senyap Akademisi

Selain publikasi, permasalahan akademisi yang sering bikin energi terkuras adalah administrasi. Banyak orang mengira akademisi hanya berkutat dengan buku, riset, dan kelas. Kenyataannya, akademisi juga sering tenggelam dalam lautan formulir, laporan, borang, dokumen akreditasi, rubrik penilaian, bukti kegiatan, dan entah apa lagi yang namanya panjang-panjang.

Administrasi sebenarnya penting. Tanpa administrasi, lembaga bisa kacau. Tapi kalau porsinya kebanyakan, akademisi bisa berubah dari peneliti menjadi operator dokumen. Pagi mengajar, siang rapat, sore mengisi laporan, malam revisi artikel. Besoknya ulang lagi. Hidup terasa seperti spreadsheet berjalan.

Yang lebih lucu, kadang satu kegiatan harus dibuktikan dengan banyak dokumen. Ada surat tugas, daftar hadir, foto kegiatan, laporan kegiatan, notulen, sertifikat, tautan publikasi, dan mungkin kalau bisa, bukti bahwa akademisi tersebut benar-benar bernapas saat kegiatan berlangsung. Ini tentu melelahkan, apalagi jika sistem digitalnya belum ramah pengguna. Klik satu menu, error. Upload file, gagal. Simpan data, hilang. Di situ iman akademik diuji.

3. Dana Riset yang Sering Kurus Kering

Riset butuh dana. Ini fakta sederhana, tapi sering kali dilupakan. Tidak semua penelitian bisa dilakukan hanya dengan semangat, laptop tua, dan kopi sachet. Ada riset yang membutuhkan alat, bahan, transportasi, responden, perangkat lunak, enumerator, publikasi, hingga biaya konferensi.

Permasalahan akademisi muncul ketika ide riset besar, tetapi dana yang tersedia kecil. Ibarat ingin membangun roket, tapi anggarannya cukup untuk beli layangan. Akhirnya, akademisi harus pintar-pintar menyiasati keadaan. Ada yang mengurangi ruang lingkup penelitian, mencari kolaborasi, memakai dana pribadi, atau berburu hibah yang persaingannya ketat seperti war tiket konser.

Hibah penelitian memang menjadi salah satu solusi, tetapi prosesnya tidak selalu mudah. Proposal harus kuat, luaran harus jelas, relevansi harus tajam, dan administrasinya juga tidak kalah meriah. Setelah dapat hibah pun, pekerjaan belum selesai. Ada laporan kemajuan, laporan akhir, luaran wajib, luaran tambahan, dan pertanggungjawaban anggaran yang harus rapi. Salah sedikit, bisa pusing satu semester.

4. Mahasiswa Bimbingan: Antara Harapan dan Hilang Tanpa Jejak

Bagi dosen, membimbing mahasiswa adalah bagian dari tugas akademik. Namun, ini juga bisa menjadi sumber drama tersendiri. Ada mahasiswa yang rajin, terstruktur, dan kalau bimbingan membawa progres jelas. Ini tipe mahasiswa yang bikin dosen tersenyum.

Tapi ada juga mahasiswa yang datang hanya saat deadline sudah di depan mata. Tiga bulan menghilang, tiba-tiba muncul dengan pesan, “Pak/Bu, bisa bimbingan hari ini? Besok terakhir daftar sidang.” Ini bukan bimbingan, ini uji ketahanan mental.

Permasalahan akademisi dalam membimbing mahasiswa bukan hanya soal teknis skripsi, tesis, atau disertasi. Ada juga urusan motivasi, komunikasi, kedisiplinan, literasi akademik, bahkan kesehatan mental mahasiswa. Dosen kadang harus menjadi pembimbing akademik, editor dadakan, motivator, detektif plagiarisme, sekaligus pemadam kebakaran menjelang sidang.

Di sisi lain, jumlah mahasiswa bimbingan yang terlalu banyak juga membuat proses bimbingan tidak ideal. Dosen ingin memberi masukan detail, tetapi waktu terbatas. Mahasiswa ingin cepat lulus, dosen ingin kualitas tetap terjaga. Di tengah-tengahnya, ada revisi bab 1 yang sudah balik lima kali tapi masih salah menulis rumusan masalah.

5. Keseimbangan Hidup yang Sering Cuma Teori

Akademisi sering membahas konsep work-life balance di seminar, tetapi diam-diam sulit mempraktikkannya sendiri. Ini ironis, tapi nyata. Banyak akademisi membawa pekerjaan pulang ke rumah. Artikel ditulis malam-malam, materi kuliah disiapkan saat akhir pekan, email mahasiswa dibalas sebelum tidur, dan revisi jurnal dikerjakan sambil menahan kantuk.

Permasalahan akademisi dalam hal keseimbangan hidup cukup serius. Beban kerja yang tinggi bisa berdampak pada stres, kelelahan, dan penurunan produktivitas. Apalagi jika akademisi merasa harus selalu tersedia. Mahasiswa menghubungi kapan saja, lembaga meminta laporan mendadak, jurnal menunggu revisi, dan keluarga juga butuh perhatian.

Akademisi memang terlihat fleksibel, tetapi fleksibel kadang berarti jam kerja menyebar ke seluruh hidup. Tidak ada batas jelas antara kerja dan istirahat. Laptop terbuka terus, pikiran tidak pernah benar-benar libur. Bahkan saat sedang makan, tiba-tiba teringat: “Aduh, belum submit laporan BKD.”

6. Tuntutan Digitalisasi: Harus Melek Teknologi, Mau Tidak Mau

Zaman berubah. Akademisi sekarang tidak cukup hanya pintar bicara di kelas dan menulis di jurnal. Mereka juga dituntut menguasai teknologi pembelajaran, platform daring, manajemen referensi, aplikasi cek plagiarisme, sistem informasi kampus, kecerdasan buatan, analisis data, hingga media sosial akademik.

Digitalisasi bisa membantu, tetapi juga bisa menjadi sumber stres baru. Tidak semua akademisi punya latar belakang teknologi yang kuat. Ada yang cepat beradaptasi, ada juga yang butuh waktu. Masalah muncul ketika sistem berubah cepat, tetapi pelatihan minim. Akhirnya, akademisi belajar sambil jalan, sambil bingung, sambil berharap tombol “submit” benar-benar menyimpan data.

Di sisi lain, dunia digital juga membawa tantangan etika. Misalnya penggunaan AI dalam tugas mahasiswa, plagiarisme digital, manipulasi data, hingga kualitas sumber informasi. Akademisi harus mampu mengarahkan mahasiswa agar teknologi digunakan secara cerdas, bukan sekadar menjadi mesin copy-paste yang lebih canggih.

7. Karier Akademik yang Jalannya Tidak Selalu Mulus

Karier akademik punya jenjang yang panjang. Ada jabatan fungsional, angka kredit, sertifikasi, publikasi, pengabdian, pendidikan lanjutan, dan berbagai syarat administratif lain. Untuk naik jabatan, akademisi harus mengumpulkan bukti kinerja. Bukan hanya bekerja, tetapi juga membuktikan bahwa pekerjaan itu benar-benar terjadi.

Permasalahan akademisi di bidang karier sering berkaitan dengan kompleksitas aturan, keterbatasan waktu, dan ketimpangan akses. Tidak semua akademisi punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan hibah, mengikuti konferensi, atau membangun jaringan riset. Akademisi di perguruan tinggi besar mungkin punya fasilitas lebih baik, sedangkan akademisi di daerah harus berjuang lebih keras dengan sumber daya terbatas.

Belum lagi tekanan untuk studi lanjut. Banyak akademisi dituntut memiliki kualifikasi tinggi, tetapi proses studi lanjut membutuhkan waktu, biaya, energi, dan dukungan institusi. Tidak sedikit yang harus membagi waktu antara kuliah, mengajar, meneliti, keluarga, dan urusan hidup lainnya. Kalau manusia punya baterai seperti ponsel, mungkin akademisi sering berada di mode 5 persen tapi tetap dipaksa presentasi.

8. Solusi: Bukan Sulap, Tapi Bisa Dibenahi

Permasalahan akademisi tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan manis. Perlu pembenahan nyata. Pertama, beban administrasi perlu dirampingkan. Sistem pelaporan harus dibuat lebih sederhana, terintegrasi, dan tidak berulang-ulang. Jangan sampai akademisi lebih banyak mengurus bukti kerja daripada melakukan kerja akademik itu sendiri.

Kedua, dukungan riset perlu diperkuat. Kampus dan pemerintah perlu menyediakan dana, pelatihan, akses jurnal, laboratorium, serta pendampingan publikasi. Akademisi tidak cukup hanya dituntut menghasilkan karya, tetapi juga perlu diberi ekosistem yang memungkinkan karya itu lahir.

Ketiga, budaya akademik harus lebih sehat. Publikasi penting, tetapi kualitas tidak boleh dikorbankan demi angka. Kolaborasi perlu diperluas, bukan hanya kompetisi. Dosen muda perlu dibimbing, bukan dibiarkan berenang sendiri di kolam administrasi yang dalam.

Keempat, kesehatan mental akademisi juga harus diperhatikan. Beban kerja yang tinggi perlu diimbangi dengan manajemen waktu, distribusi tugas yang adil, dan batas komunikasi yang sehat. Akademisi juga manusia, bukan mesin pencetak jurnal bersertifikat.

Permasalahan akademisi adalah persoalan kompleks yang mencakup tekanan publikasi, beban administrasi, keterbatasan dana riset, dinamika mahasiswa, tuntutan digitalisasi, hingga keseimbangan hidup yang sering goyah. Dunia akademik memang terlihat rapi dari luar, tetapi di dalamnya ada banyak perjuangan yang tidak selalu tampak.

Akademisi bukan hanya orang yang berdiri di depan kelas atau menulis artikel ilmiah. Mereka adalah pekerja intelektual yang harus terus belajar, beradaptasi, meneliti, membimbing, dan bertahan di tengah sistem yang kadang terlalu menuntut. Maka, kalau bertemu dosen atau peneliti yang matanya agak sayu sambil membawa tumbler kopi, jangan langsung menilai. Bisa jadi dia baru saja kalah ronde pertama melawan reviewer jurnal, lalu ronde kedua melawan borang akreditasi.

Pada akhirnya, memperbaiki dunia akademik bukan hanya tugas akademisi itu sendiri. Institusi, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat juga perlu memahami bahwa kualitas pendidikan tinggi lahir dari ekosistem yang sehat. Karena akademisi yang sehat, didukung, dan tidak terlalu dibebani urusan receh administratif akan lebih mampu menghasilkan ilmu yang benar-benar bermanfaat.

Dan ya, kopi boleh membantu. Tapi sistem yang waras tetap jauh lebih penting.

Bagikan Artikel:

Diskusi (0)

Tulis Komentar
Balas ke:
4 + 7 =
Wajib diisi untuk memastikan Anda bukan robot spam.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!